Penanganan Banjir Metro-Samandaran Dimulai Oktober

CILEGON, BANPOS – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon bersama pengelola Jalan Tol Tangerang-Merak menyiapkan penanganan banjir di kawasan Metro dan Samandaran. Pekerjaan fisik ditargetkan mulai Oktober 2026 dan rampung pada akhir Januari 2027.

Walikota Cilegon Robinsar mengatakan, persoalan banjir di dua kawasan tersebut telah disampaikan kepada pengelola jalan tol sejak awal tahun. Sejumlah rapat dan koordinasi telah dilakukan untuk menentukan langkah penanganan serta pembagian kewenangan.

Baca Juga

“Kita sudah bersurat di awal tahun soal banjir. Rapat dengan rekan-rekan tol, stakeholder, tahapan sudah kita lalui. Tinggal eksekusi yang akan dilakukan awal Oktober dengan selesai di akhir Januari,” ujar Robinsar usai rapat koordinasi di Rumah Dinas Wali Kota Cilegon, Kamis (3/9).

Menurut Robinsar, penanganan dilakukan secara kolaboratif sesuai kewenangan masing-masing. Pemkot Cilegon akan menangani titik yang menjadi kewenangan pemerintah daerah, sedangkan pekerjaan di kawasan jalan tol dilakukan oleh pengelola tol.

“Tujuannya kita saling support, saling membantu. Bila ranahnya kami, akan kami kerjakan,” katanya.

Gorong-gorong Metro Diperlebar

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cilegon Tubagus Dendi Rudiatna mengatakan, terdapat dua titik utama yang menjadi perhatian, yakni Kilometer (KM) 92 di kawasan Perumahan Metro dan KM 89 di Samandaran.

Di kawasan Metro, persoalan utama berada pada kapasitas gorong-gorong yang dinilai tidak lagi mampu menampung aliran air.

Gorong-gorong yang saat ini memiliki dimensi sekitar 7,9 meter akan diperlebar menjadi sekitar 16 meter atau bertambah sekitar 8 meter.

“Di KM 92 di Metro diidentifikasi gorong-gorongnya terlalu kecil. Dimensi sekarang 7,9 meter akan diperlebar 16 meter atau ditambah 8 meter,” jelas Dendi.

Selain gorong-gorong, kapasitas jembatan di kawasan tersebut juga akan disesuaikan. Lebar jembatan yang saat ini sekitar tujuh meter dinilai perlu diperbesar agar tidak menghambat aliran air.

DPUPR Kota Cilegon kini menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan jembatan yang rencananya diusulkan pada 2027.

Penanganan juga akan dilanjutkan dengan normalisasi aliran air ke arah hulu hingga kawasan rumah sakit.

“Kalau tidak dilebarkan akan fatal berikutnya. Setelah itu kita akan melakukan normalisasi ke atas, hulunya ke rumah sakit,” katanya.

Menurut Dendi, penanganan dari hilir ke hulu diperlukan agar genangan di kawasan Metro tidak meluas hingga rumah sakit.

Samandaran Dipasang Pompa Otomatis

Sementara itu, persoalan banjir di Samandaran berbeda dengan Metro. Genangan terjadi karena posisi jalan kota lebih rendah dan membentuk cekungan di sekitar terowongan sehingga air sulit mengalir keluar saat hujan.

Selama ini, Pemkot Cilegon menangani genangan di lokasi tersebut menggunakan pompa alkon.

Ke depan, pengelola jalan tol akan memasang pompa otomatis yang bekerja ketika terjadi genangan.

“Jalan tol MMS akan melakukan pompa secara otomatis. Jadi saat ada genangan akan menyedot yang di Samandaran,” ujar Dendi.

Selain pompa, pengelola tol juga akan membuat pembatas untuk mencegah aliran air dari area persawahan masuk ke kawasan terowongan.

Dendi menegaskan, anggaran pekerjaan yang menjadi kewenangan jalan tol berasal dari pengelola tol dan tidak dibebankan kepada Pemkot Cilegon.

Pemkot Cilegon berharap penanganan tersebut tidak hanya mengatasi genangan saat hujan, tetapi juga memperbaiki sistem drainase dan aliran air dari hulu hingga hilir.

Dengan penanganan tersebut, banjir di kawasan Metro dan Samandaran diharapkan tidak terus berulang. (CR-03)

Berita Terkait

Discussion about this post