CILEGON, BANPOS – Dua dekade menjadi waktu panjang bagi basket Cilegon untuk kembali meraih medali emas. Prestasi terakhir ditorehkan pada ajang Porprov atau Porda Banten 2006.
Catatan tersebut kini menjadi pijakan sekaligus tantangan bagi kepengurusan Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kota Cilegon periode 2026-2030.
Mantan Ketua Umum sekaligus Penasihat Perbasi Cilegon, Wawan Mulyana, menilai upaya mengembalikan kejayaan basket Cilegon harus dimulai dari sistem pembinaan yang terarah dan terukur.
Menurutnya, prestasi pada 2006 membuktikan bahwa pembinaan yang dilakukan secara serius mampu melahirkan atlet berkualitas. Sejumlah pemain Cilegon, seperti Imam dan Iqbal, bahkan berhasil menembus skuad Pra-PON hingga berlaga di PON di Kalimantan dan finis di peringkat keenam.
“Sekarang Perbasi harus mampu berkomunikasi dengan baik antar-lini pengurus. Kemudian harus melihat bagaimana talent spotting, yaitu mencari atlet-atlet berbakat. Jangan sungkan mengeluarkan anggaran, itu wajar,” ujar Wawan kepada Banpos, beberapa hari lalu.
Ia mengatakan, pencarian atlet berbakat harus diikuti pembinaan yang konsisten. Penempatan atlet pada lingkungan latihan yang tepat juga penting untuk meningkatkan kemampuan dan mental bertanding.
“Dulu kita mengirim atlet ke Ragunan Training Center. Alhamdulillah akhirnya menghasilkan prestasi yang bagus. Artinya, fokus, visi dan misi harus jelas, arah tujuannya ke mana,” katanya.
Perkuat Pembinaan
Wawan menilai dukungan pemerintah juga menjadi faktor penting untuk membangun kembali prestasi basket Cilegon. Dukungan tersebut diperlukan, baik dalam aspek kelembagaan maupun pembiayaan pembinaan.
“Harusnya mampu, karena beliau memiliki background basket dan posisi yang baik. Saya berharap aspek finansial juga terdukung oleh pemerintah,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengingatkan anggaran bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Setiap program harus dikawal melalui monitoring dan evaluasi agar berjalan sesuai target.
“Aspek monitoring dan evaluasi harus ketat. Dulu saya juga ketat. Tidak ada suatu keinginan yang luhur jika kita jalani dengan baik dan telaten, pasti tujuan itu akan tercapai,” ujarnya.
Selain atlet, Perbasi juga diminta memperkuat sumber daya pendukung, terutama pelatih dan wasit.
“Tidak hanya membangun sumber daya atlet, tapi juga sumber daya yang lain seperti pelatih dan wasit. Kalau hanya bisa main tapi tidak memahami aturan dan tidak ada wasit yang menggambarkan aturan dalam permainan, tidak bisa juga,” katanya.
Menurut Wawan, pemain, pelatih, wasit dan pengurus merupakan satu kesatuan dalam membangun prestasi. Karena itu, pembinaan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Ia juga mendorong penjaringan atlet sejak usia dini melalui lingkungan sekolah. Minat anak terhadap basket dinilai dapat menjadi fondasi untuk membangun basis atlet berprestasi.
“Kalau basket ini sudah dicintai oleh murid usia dini, gampang. Dari situ selanjutnya menuju prestasi,” katanya.
Wawan berharap kepengurusan Perbasi Cilegon periode 2026-2030 mampu mengembalikan medali emas melalui sistem pembinaan yang terencana, bukan sekadar ambisi.
“Saya berharap kepengurusan 2026-2030 ini bisa menghasilkan apa yang menjadi tujuan ketua. Itu menjadi kiblat basket Banten dan bisa dapat emas. Saya akan bangga ketika mendapatkan emas kembali. Atletnya bisa maju dan pengurusnya bisa berkembang,” pungkasnya. (CR03)







Discussion about this post