Pohon RTH Cilegon Mulai Diperiksa, Satu Terindikasi Sakit Berat

CILEGON, BANPOS – Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Kota Cilegon meningkatkan pemeriksaan kesehatan pohon di ruang terbuka hijau (RTH).

Langkah ini dilakukan setelah salah satu pohon di Taman Layak Anak tumbang. Hasil pemeriksaan menunjukkan pohon tersebut mengalami pembusukan pada bagian akar.

Baca Juga

Fungsional Penata Kelola Perumahan Perkim Kota Cilegon, Wendi Arthiyanto, mengatakan pemeriksaan kesehatan pohon diperlukan untuk mengantisipasi risiko dahan patah maupun pohon tumbang.

“Memang kemarin itu sempat ada pohon rubuh di Taman Anak. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ada akar yang busuk,” ujar Wendi, Senin (25/8).

Dari pemeriksaan awal, Perkim menemukan sejumlah pohon dalam kondisi kurang sehat. Di kawasan Taman Layak Anak, terdapat satu pohon yang kondisinya sakit cukup parah dan dua hingga tiga pohon lainnya memiliki pertumbuhan tidak simetris.

“Kalau di dalam area itu yang sakit parah ada satu, yang kondisinya tidak simetris ada dua atau tiga pohon,” katanya.

Wendi mengatakan, selama ini pemangkasan pohon lebih banyak dilakukan untuk kepentingan penataan. Ke depan, pemangkasan akan disertai pemeriksaan kondisi kesehatan pohon.

“Selama ini kan hanya sebatas pemangkasan, cuma belum ke substansi apakah pohon itu sehat atau enggak. Ke depannya akan terkait kesehatan pohon,” ujarnya.

Pemeriksaan dan pemangkasan akan dilakukan secara berkala. Perkim akan memulainya dari Taman Layak Anak sebelum dilanjutkan ke taman-taman lainnya di Kota Cilegon.

“Mungkin kami akan mulai dari Taman Layak Anak dan akan berlanjut ke taman lain,” tuturnya.

Ada Pohon Berpotensi Roboh

Arborist Hadi Kurniawan turut melakukan pemeriksaan sekaligus memberikan edukasi kepada Perkim terkait mitigasi risiko pohon.

Menurut Hadi, pemeriksaan sejak awal penting untuk mengidentifikasi pohon yang sakit atau berpotensi membahayakan masyarakat.

“Saya mencoba komunikasi dengan pihak Dinas Perkim Kota Cilegon untuk berbagi pengetahuan, supaya ada kepedulian dulu mana saja pohon yang sakit, pohon berbahaya, sehingga pada saat pohon tumbang ataupun patah bisa diminimalisir. Mitigasi dari awal,” kata Hadi.

Dari pemeriksaan awal, Hadi menemukan satu pohon dalam kondisi sakit berat dan berpotensi roboh jika tidak segera mendapatkan penanganan khusus.

“Di sini juga ada salah satu pohon yang statusnya sudah sakit berat, itu berpeluang untuk roboh kapan saja,” ujarnya.

Meski demikian, Hadi menilai secara keseluruhan pohon di kawasan tersebut masih dapat dipertahankan melalui perawatan. Penanganannya antara lain pemangkasan, pengurangan tajuk, dan pemeriksaan kesehatan lanjutan.

“Secara keseluruhan masih bisa dipertahankan dengan cara perlakuan khusus. Harus ada pemangkasan, harus ada pengurangan tajuk, harus ada pemeriksaan kesehatan lanjutan,” katanya.

Pohon Tak Cukup Hanya Ditanam

Hadi mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar pemeliharaan menjadi bagian dari pengelolaan RTH. Pohon yang telah ditanam tetap membutuhkan perawatan secara berkala untuk menjaga kesehatan dan keselamatan warga.

“Ruang terbuka hijau ini tidak hanya setelah ditanam selesai, tapi juga perlu dipelihara, ada perawatannya, harus ada maintenance,” tegasnya.

Selain faktor usia dan kondisi alam, Hadi menyoroti vandalisme terhadap pohon, seperti memaku batang, membakar, hingga memasang spanduk dan banner.

Menurutnya, tindakan tersebut dapat mengganggu kesehatan pohon dalam jangka panjang karena berpotensi menjadi jalur masuk hama dan penyakit.

“Biasanya di jalan-jalan utama itu bekas pemasangan spanduk, banner kampanye terdahulu sangat memengaruhi pertumbuhan pohon. Meskipun dalam jangka waktu dekat tidak berpengaruh, tapi dalam jangka lama akan menjadi infeksi pada pohon tersebut dan bisa menjadi pintu masuk serangan hama,” jelasnya.

Hadi menilai pemeriksaan dan pemeliharaan pohon secara berkala perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan RTH. Langkah tersebut penting untuk menjaga keberadaan pohon sekaligus mengurangi risiko yang dapat membahayakan masyarakat. (CR03)

Berita Terkait

Discussion about this post