LEBAK, BANPOS — Tak perlu pesta mewah untuk merayakan kemerdekaan. Dengan bermodal iuran seadanya dan semangat gotong royong, warga Kampung Nambo, Desa Cikeusik Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak, tetap mampu menghadirkan kemeriahan HUT ke-81 Republik Indonesia melalui pawai angklung dan berbagai perlombaan rakyat.
Perayaan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan bagi masyarakat untuk kehilangan semangat dalam menyambut hari kemerdekaan. Warga secara sukarela menyisihkan sebagian uang, tenaga, dan waktu demi memastikan perayaan HUT RI tetap berlangsung meriah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pawai kemerdekaan yang diikuti masyarakat Kampung Nambo. Pawai semakin semarak dengan iringan musik tradisional angklung yang dimainkan warga.
Selain menjadi hiburan, penggunaan angklung juga menjadi bentuk kepedulian masyarakat dalam menjaga dan melestarikan kesenian tradisional agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Usai pawai, kemeriahan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang melibatkan anak-anak, pemuda hingga masyarakat umum.
Perlombaan tersebut di antaranya balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, makan kerupuk, membawa kelereng menggunakan sendok, goyang kursi, goyang balon, tarik tambang, panco, permainan bola hingga estafet tepung.
Dede Fauzi mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya untuk mempererat silaturahmi dan kekompakan masyarakat.
“Kegiatan ini bukan hanya sekadar untuk memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan kekompakan warga,” ucap Dede Fauzi kepada BANPOS, Senin (17/8).
“Seperti yang kita lihat antusias masyarakat sangat luar biasa, mulai dari anak-anak, pemuda hingga orang tua ikut berpartisipasi dalam berbagai perlombaan,” tambah Dede.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Yusuf Maulana, mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan terlaksana melalui swadaya masyarakat. Tidak ada sumbangsih dana dari pemerintah setempat, sehingga kebutuhan acara dipenuhi melalui iuran sukarela warga.
“Kegiatan ini bisa terlaksana karena adanya kebersamaan warga. Memang tidak ada sumbangsih dari pemerintah setempat, tetapi masyarakat dengan sukarela menyisihkan uang untuk kegiatan ini,” ujarnya.
Menurut Yusuf, dukungan masyarakat tidak hanya diberikan dalam bentuk uang. Warga juga ikut menyumbangkan tenaga dan waktu untuk mempersiapkan serta menyukseskan kegiatan.
“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh warga yang sudah ikut berkontribusi. Ada yang menyumbang uang, tenaga, waktu, maupun ikut meramaikan acara. Semua itu sangat berarti bagi terlaksananya kegiatan ini,” katanya. (*)







Discussion about this post