CILEGON, BANPOS – Pemerintah Kota Cilegon mendorong produk kuliner lokal menembus pasar internasional. Salah satunya rabeg instan berbahan daging yang kini disiapkan sebagai sampel untuk dijajaki pemasarannya di Belanda.
Produk khas Cilegon tersebut akan diperkenalkan melalui Atase Perdagangan Republik Indonesia di KBRI Den Haag. Penjajakan ini diharapkan membuka peluang rabeg masuk ke pasar luar negeri.
Istri Wakil Walikota Cilegon, Nur Kusuma Ngarasati, mengatakan dirinya ingin memastikan langsung proses produksi dan kesiapan produk sebelum sampel rabeg dikirim ke Belanda.
“Saya ingin melihat produksi dan saya ingin membawa sampel dari rabeg ini. Sudah ditunggu dari KBRI Den Haag untuk kita kirimkan ke Perdagangan Republik Indonesia,” ujar Raras kepada BANPOS, Kamis (13/8).
Menurut Raras, rabeg memiliki peluang untuk diperkenalkan sebagai salah satu produk makanan khas Indonesia di pasar internasional.
Pasalnya, produk makanan Indonesia dalam bentuk instan yang telah dikenal di luar negeri masih didominasi sejumlah produk tertentu, seperti rendang.
“Dari Indonesia kebanyakan yang instan-instan ini ada rendang. Nah, dari Banten dicari, kebetulan belum ada,” katanya.
Raras juga mengapresiasi kesiapan Rumah Produksi Rabeg Te’Eng yang telah melengkapi produknya dengan sejumlah persyaratan dan sertifikasi untuk menunjang standar pengolahan dan keamanan pangan.
“Saya melihat rabeg ini sudah luar biasa. Apalagi secara legalitas, produk ini sudah memiliki sertifikat halal hingga Nomor Kontrol Veteriner (NKV),” ujarnya.
Siapkan Inovasi Produk
Raras mengatakan pengembangan produk perlu terus dilakukan agar rabeg dapat menyasar lebih banyak pasar internasional.
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan yakni rabeg dalam bentuk bumbu. Produk tersebut dinilai dapat menjadi alternatif untuk menyiasati ketentuan impor makanan berbahan daging di sejumlah negara.
Selain Belanda, Australia dan Arab Saudi turut dipertimbangkan sebagai pasar pengembangan rabeg khas Cilegon.
Sementara itu, pemilik Rumah Produksi Rabeg Te’Eng, Heriyah, mengatakan kapasitas produksi saat ini disesuaikan dengan jumlah pesanan.
Dalam satu kali produksi, pihaknya mampu mengolah sekitar 25 kilogram rabeg.
“Sekali produksi 25 kilogram, tapi tergantung dari pemesanan,” kata Heriyah.
Untuk memperluas pasar, Rabeg Te’Eng tidak hanya mengandalkan toko oleh-oleh. Produk tersebut juga dipasarkan melalui reseller dan sejumlah platform digital.
“Selain toko oleh-oleh, terdapat reseller dan platform digital,” ujarnya. (CR03)







Discussion about this post