SERANG, BANPOS — Universitas Banten Jaya (UNBAJA) menggelar peringatan Dies Natalis ke-15. Digelar secara sederhana, peringatan hari jadi kampus ini menjadi momentum untuk memperkuat jati diri institusi di tengah pesatnya disrupsi teknologi. Dalam kesempatan itu, UNBAJA menegasan komitmennya dalam melahirkan lulusan berdaya saing global yang siap menciptakan lapangan kerja.
Rektor UNBAJA, Dadang Herli Saputra mengungkapkan bahwa peringatan Dies Natalis pada periode awal kepemimpinannya ini tidak ditujukan sekadar sebagai momentum selebrasi tahunan, melainkan sebagai wadah refleksi dan reposisi arah strategis perguruan tinggi dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence /AI).
“Dies Natalis ini bukan hanya sekedar peringatan ulang tahun, tapi untuk membangun kembali jati diri sebuah universitas, ya. Jadi kita mau arahnya ke mana dengan tantangan perguruan tinggi saat ini bukan hanya menghasilkan lulusan orang menjadi sarjana, tetapi bagaimana dia mampu bersaing di tengah perubahan yang sangat besar, diantaranya artificial intelligence (AI),” ujar Rektor Unbaja kepada wartawan usai acara Dies Natalis Ke-15 UNBAJA, Minggu (2/7/2026).
Pentingnya Perubahan Pola Pikir
Menjawab tantangan perubahan iklim industri yang begitu dinamis, Dadang menegaskan tentang pentingnya perubahan pola pikir mahasiswa sejak awal masuk ke bangku perkuliahan. Mahasiswa diimbau agar tidak lagi menempatkan ijazah formal atau nilai akademis sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
“Saat dia bergabung di Universitas Banten Jaya, maka yang harus disiapkan bukan bagaimana untuk mendapatkan ijazah, tetapi bagaimana untuk menghadapi masa depan, bagaimana untuk menghadapi perubahan. Jadi kalau cuma sekedar ijazah saja tidak ada gunanya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rektor menguraikan bahwa persaingan ke depan akan menuntut kompetensi riil dan fleksibilitas tinggi. Dia berharap agar para alumni Unbaja mampu masuk ke dalam rantai pasok dan pasar tenaga kerja global, sekaligus bertindak sebagai pencipta peluang kerja baru.
“Yang lebih penting lagi, bukan bagaimana mereka mendapatkan pekerjaan, tetapi bagaimana mereka menciptakan sebuah pekerjaan,” paparnya.
Prinsip ini sejalan dengan orasi ilmiah yang disampaikan Dadang dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-15 UNBAJA. D mana, insan akademika didorong untuk menjadi agent of change di tengah percepatan perubahan zaman.
“Bagaimana kita menjadi agent of change, agen dari perubahan itu. Jadi tantangan ke depan itu bagaimana menghadapi perubahan. Perubahan itu kalau dulu setahun sekali, 2 tahun sekali, sekarang perubahan 1 bulan yang kita anggap baru, bulan ke depan sudah bisa berubah lagi,” tambahnya.
Dukung Penuh Pengembangan Program
Ditemui di lokasi yang sama, Kepala Yayasan Universitas Banten Jaya, Suba’i, menyambut positif semangat baru yang diusung dalam peringatan Dies Natalis ini. Pihak yayasan berkomitmen akan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh jajaran rektorat dan karyawan untuk mengembangkan program-program unggulan kampus.
“Harapannya dengan acara Dies Natalis ini, insan Unbaja, baik yayasan, rektorat, karyawan, semua tumbuh bersemangat kembali sehingga nanti bisa mengembangkan Unbaja lebih baik. Jadi kita punya program-program unggulan, insyaallah kita kembangkan, sehingga nanti dengan dukungan semuanya, insyaallah Unbaja akan terus maju dan berkembang,” tegas Suba’i.
Menanggapi pesatnya perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat akan metode pembelajaran modern, Suba’i menjelaskan bahwa Unbaja kini tengah melakukan serangkaian penyesuaian infrastruktur dan sistem perkuliahan berbasis digital.
“Kita terus beradaptasi ya, menggunakan teknologi, karena memang itu jadi tuntutan. Karena kuliah itu tidak harus selalu di ruang kelas secara tatap muka, tapi juga melalui kelas-kelas online. Kita juga sedang persiapkan semuanya,” jelasnya.
Kendati kemudahan teknologi memberikan fleksibilitas tinggi, pihak yayasan menegaskan bahwa standar mutu pendidikan tetap menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar.
“Yang kita kejar targetnya adalah berkualitas. Jangan sampai nanti karena proses yang tidak bagus, akhirnya kualitas tidak bagus juga. Kita ikuti terus perkembangan teknologi, tapi juga tidak mengabaikan kualitas. Tetap kualitas nomor satu,” tegas Suba’i. (*)




Discussion about this post