CILEGON, BANPOS – Kebiasaan overthinking ternyata bisa memperparah gejala penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Meski bukan penyebab langsung, stres dan kecemasan yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem pencernaan sehingga keluhan asam lambung lebih mudah kambuh.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Cilegon, dr. Fachrial Imam, menjelaskan secara medis overthinking tidak menyebabkan GERD. Namun, tekanan psikologis memicu tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang berdampak pada saluran cerna.
“Ketika seseorang mengalami stres atau kecemasan berlebih, tubuh akan menghasilkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin,” ujar dr. Fachrial dalam kegiatan media meet up di Cilegon, Selasa (30/6).
Menurutnya, peningkatan hormon tersebut dapat merangsang produksi asam lambung, memperlambat proses pencernaan, sekaligus membuat saluran cerna lebih sensitif terhadap rasa nyeri.
Akibatnya, penderita GERD lebih sering merasakan sensasi panas di dada (heartburn), rasa asam di tenggorokan, hingga perut terasa tidak nyaman saat mengalami tekanan emosional.
“Bahkan bisa terjadi siklus yang berulang. Gejala GERD membuat seseorang semakin cemas, sementara kecemasan justru memperparah keluhan asam lambung,” jelasnya.
Kenali Gejala GERD
Dr. Fachrial mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai beberapa gejala GERD, seperti:
- rasa terbakar di dada atau ulu hati,
- asam lambung naik ke tenggorokan,
- sering bersendawa,
- perut kembung,
- mual setelah makan,
- batuk kronis terutama pada malam hari,
- suara serak, hingga
- gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman di dada.
Selain stres, orang yang sedang mengalami overthinking biasanya juga mengubah pola hidup. Misalnya makan tidak teratur, kurang tidur, terlalu banyak minum kopi, atau lebih sering mengonsumsi makanan cepat saji. Kebiasaan tersebut ikut meningkatkan risiko kambuhnya GERD.
Makanan yang Dianjurkan
Untuk membantu mengendalikan GERD, dr. Fachrial menyarankan pola makan yang lebih sehat.
Beberapa makanan yang relatif aman dikonsumsi antara lain oatmeal, nasi merah, roti gandum, kentang rebus, ubi kukus, dada ayam tanpa kulit, ikan, tahu, tempe, putih telur, serta sayuran seperti brokoli, wortel, bayam, buncis, dan labu.
Buah yang tidak terlalu asam seperti pisang, pepaya, melon, semangka, dan pir juga dapat menjadi pilihan.
Sebaliknya, penderita GERD sebaiknya membatasi makanan pedas, gorengan, makanan tinggi lemak, cokelat, kopi, minuman berkafein, minuman bersoda, alkohol, serta makanan dan buah yang memiliki kadar asam tinggi.
“Setiap orang memiliki pemicu yang berbeda. Karena itu, penting mengenali makanan apa saja yang memicu gejala pada diri masing-masing,” katanya.
Jangan Hanya Minum Obat
Selain menjaga pola makan, pengelolaan stres juga menjadi bagian penting dalam mengendalikan GERD.
Dr. Fachrial menyarankan aktivitas sederhana seperti berjalan santai, olahraga ringan, latihan pernapasan, menulis jurnal, menjaga kualitas tidur, hingga membatasi penggunaan media sosial untuk membantu mengurangi stres dan overthinking.
Ia juga mengimbau masyarakat segera berkonsultasi ke dokter apabila gejala GERD muncul lebih dari dua kali dalam sepekan, disertai kesulitan menelan, penurunan berat badan tanpa sebab, muntah berulang, atau nyeri dada yang berat.
“Banyak pasien datang dengan keluhan GERD yang sering kambuh saat mengalami tekanan pekerjaan atau masalah pribadi. Karena itu, penanganannya tidak hanya berfokus pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup dan pengelolaan stres yang baik,” pungkasnya. (*)







Discussion about this post