Beban Ekonomi Makin Berat

Para Ibu 'Babak Belur', Beli Obat Malah Pusing

BANTEN, BANPOS – Kondisi ekonomi di Indonesia terasa makin memberatkan masyarakat. Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi diikuti kenaikan harga-harga lain, termasuk bahan pokok dan obat-obatan.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar memberi pukulan telak terhadap para ibu di Kabupaten Lebak. Sebab, pelemahan nilai tukar berdampak terhadap melonjaknya sejumlah komoditas di pasar. Kondisi itu membuat para ibu di Provinsi Banten harus pandai-pandai memutar otak supaya uang yang ada di tangan saat ini mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga

Di Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, potret kesulitan ekonomi ini sangat terasa bagi warga yang tidak memiliki pendapatan tetap. Nominal Rp50 ribu yang dahulu dianggap cukup untuk belanja harian, kini nilainya seolah tak lagi berdaya di hadapan harga pangan yang terus merangkak naik.

Suedah (52), seorang ibu rumah tangga di wilayah tersebut, mengaku mulai kewalahan mengatur pengeluaran. Setiap kali melangkah ke pasar, ia harus menelan pil pahit lantaran harga kebutuhan pokok yang ia sasar hampir seluruhnya naik dalam kurun waktu singkat.

“Rp50 ribu sekarang cuma dapat sedikit. Kalau buat beli beras saja belum tentu cukup. Kebetulan hari ini masih ada stok beras di rumah. Kalau nggak ada, pasti nggak cukup,” ujarnya.

Dia kemudian menunjukkan isi tas belanjaannya yang terlihat sangat minimalis. Dengan teliti, ia menghitung alokasi uang yang dikeluarkan hanya untuk kebutuhan dasar yang terbatas. Minyak goreng setengah liter harus ia tebus Rp10 ribu, sementara bawang merah seperempat kilogram juga merogoh kocek Rp10 ribu. 

Sisanya digunakan untuk membeli cabai dan tomat senilai Rp5 ribu, satu papan tempe Rp5 ribu, telur seperempat kilogram Rp8 ribu, ikan asin Rp10 ribu, dan sayuran sekitar Rp10 ribu. Dengan daftar belanja tersebut, lauk bergizi tinggi seperti ikan segar atau daging hampir mustahil dijangkau.

“Ini ikan asin Rp10 ribu, bawang Rp10 ribu, cabai dan tomat Rp5 ribu, tempe Rp5 ribu total sudah Rp30.000 lebih, belum yang lain. Ikan segar juga nggak kebeli,” katanya lirih sambil menunjukkan bahan makanan tersebut.

Agar dapur tetap mengepul dan kebutuhan makan anggota keluarganya terpenuhi seharian, Suedah terpaksa menerapkan siasat ‘irit’. Bahan makanan yang hanya sekelumit itu dibagi sedemikian rupa untuk dimakan berkali-kali.

“Ya diirit-irit saja. Tempe Rp5 ribu dibagi dua kali makan. Ikan asin juga buat pagi sama sore. Cabai sekarang mahal, sekali bikin sambal juga nggak cukup,” tuturnya pasrah.

Beban psikis dan finansial yang dirasakan Suedah kian berat mengingat statusnya sebagai pekerja serabutan. Ia mengaku hanya bisa menggantungkan hidup jika ada warga lain yang membutuhkan jasanya atau memberikan pekerjaan tidak tetap.

Kondisi ketidakpastian pendapatan inilah yang membuatnya sangat berharap pemerintah segera mampu menstabilkan ekonomi nasional. “Harapan saya cuma satu, rupiah bisa kembali stabil, jangan seperti sekarang yang punya gaji tetap saja mengeluh, apalagi saya yang nggak punya gaji. Saya cuma kerja serabutan kalau ada yang ngasih pekerjaan,” ucapnya.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Martina. Ibu satu anak itu merasa uang Rp50 ribu yang dulu dianggapnya besar, kini seakan tak ada artinya. “Sekarang mah gede di angka doang, nilainya mah rendah,” ucapnya.

Seperti halnya Suedah, Martina juga menerapkan prinsip yang sama berupa ‘irit’ untuk bisa bertahan hidup. Dengan mengirit, setidaknya uang belanja Rp50 ribu bisa mencukupi kebutuhan dapur hingga tiga hari lamanya.

“Ya kalau sekedar buat beli lauk untuk makan mah bisa paling lama tiga hari, itu pun dengan syarat diirit-irit,” terangnya.

Usaha penghematan itu tentu ada konsekuensinya. Martina harus merelakan beberapa keinginannya dikesampingkan supaya kebutuhan dasar rumah tangga dapat tetap terpenuhi.

“Ya belanja skincare, liburan ke luar kota, belanja baju baru, dan lain-lain terpaksa ditunda dulu atau jumlahnya dikurangi karena itu tadi supaya yang utamanya tetap bisa terpenuhi,” ucapnya.

Dia berharap, pemerintah bisa segera mengembalikan kondisi ekonomi dengan menstabilkan harga kebutuhan pokok di pasar, serta menaikan pendapatan masyarakat supaya tingkat kesejahteraan turut meningkat.

“Pengennya mah pemerintah bisa segera mengembalikan kondisi ekonomi dalam keadaan yang baik dan stabil. Terus pendapatan bisa meningkat supaya kesejahteraan masyarakat bisa meningkat juga,” pungkasnya. 

Bukan hanya komoditas pokok, Kenaikan harga obat-obatan di Indonesia mulai dirasakan oleh masyarakat, tidak terkecuali di Kabupaten Pandeglang. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat disebut menjadi salah satu penyebab utama naiknya biaya produksi industri farmasi. 

Salah satu Apotek di Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, beberapa jenis obat-obatan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pemilik Apotek, Atih Abdul hakim mengatakan, kenaikan harga terjadi pada jenis obat yang umum dikonsumsi oleh masyarakat seperti obat sakit kepala hingga obat maag.

“Kondisi ini dipicu meningkatnya biaya produksi akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah yang menyebabkan harga semua jenis obat naik hingga 30 persen,” kata Atih kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Atih menjelaskan, kenaikan harga obat-obatan terjadi secara bertahap. Sehingga berdampak pada omset penjualan yang mengalami penurunan.

“Banyak pelanggan yang komplain, meskipun pada akhirnya mereka tetap membelinya,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Atih, pihaknya berharap harga obat-obatan bisa kembali normal.

“Saya berharap harga obat-obatan kembali normal, sehingga masyarakat tidak semakin terbebani di tengah ekonomi yang serba sulit,” ungkapnya.

Salah seorang warga, Yuda mengeluhkan dengan adanya kenaikan harga obat-obatan di Apotek.

“Saya mau beli obat sakit kepala ke Apotek, tapi harganya sekarang naik. Mau beli obat malah tambah pusing kepala saya, karena harga obat-obatan naik,” katanya. (*)

Berita Terkait

Discussion about this post