Oleh : Ratu Nisya Yulianti
Aktivis Rumah Perempuan dan Anak (RPA) Banten
Dalam setiap peradaban besar, kualitas generasi muda selalu menjadi fondasi utama kemajuan bangsa. Tidak ada negara yang mampu melompat menjadi bangsa maju apabila masih membiarkan persoalan gizi anak, stunting, dan ketimpangan akses pangan sehat menjadi masalah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, saya memandang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan investasi strategis negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Saya menyampaikan pandangan ini tanpa dasar kepentingan apa pun. Saya bukan mitra, bukan pengelola, dan bukan pemilik dapur MBG. Saya berbicara sebagai seorang aktivis perempuan yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Bagi saya, anak-anak bukan sekadar objek kebijakan, melainkan subjek utama pembangunan bangsa dan generasi yang kelak akan menjemput cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Dalam perspektif pembangunan manusia, masalah stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak. Stunting merupakan gambaran ketidakcukupan gizi kronis yang berdampak pada perkembangan kognitif, kesehatan, produktivitas, hingga daya saing bangsa di masa depan. Oleh sebab itu, setiap kebijakan yang bertujuan memperbaiki kualitas gizi anak harus mendapatkan dukungan bersama.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada tahun 2023 menjadi 19,8 persen pada tahun 2024. Meskipun menunjukkan kemajuan yang patut diapresiasi, angka tersebut masih berarti hampir satu dari lima balita Indonesia mengalami stunting. Pemerintah sendiri menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14,2 persen pada tahun 2029.
Artinya, pekerjaan besar kita belum selesai.
Dalam konteks inilah Program MBG memiliki relevansi yang sangat kuat. Sebab perbaikan kualitas gizi merupakan salah satu instrumen penting dalam memutus rantai stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak. Program ini lahir dari sebuah niat baik negara untuk memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang lebih layak.
Namun, dukungan terhadap program tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan yang ada.
Sebagai masyarakat sipil, kita justru memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal agar niat baik tersebut benar-benar sampai kepada penerima manfaat. Jangan sampai program yang baik dalam gagasan justru kehilangan makna karena lemahnya tata kelola di lapangan.
Yang harus dibenahi hari ini bukan semata-mata programnya, melainkan tata kelola administrasi, pengawasan distribusi, akuntabilitas anggaran, transparansi pelaksana, serta kualitas implementasinya. Kritik yang konstruktif harus diarahkan pada aspek teknis pelaksanaan agar tujuan program dapat tercapai secara optimal.
Karena sesungguhnya sejarah pembangunan menunjukkan bahwa kegagalan banyak kebijakan publik sering kali bukan disebabkan oleh buruknya ide, melainkan karena lemahnya implementasi. Kita tidak ingin MBG menjadi contoh lain dari kebijakan yang baik di atas kertas namun kehilangan efektivitas ketika berhadapan dengan realitas birokrasi dan praktik lapangan.
Saya percaya bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki niat yang baik melalui Program Makan Bergizi Gratis. Namun niat baik saja tidak cukup. Niat baik harus bertemu dengan tata kelola yang baik. Jangan sampai baik dalam niat, tetapi bias dalam implementasi.
Di sisi lain, saya juga melihat bahwa kepemimpinan di sektor ini memiliki modal sosial yang kuat. Pemegang kendali Badan Gizi Nasional saat ini adalah seorang perempuan, seorang ibu, yang secara naluriah memiliki perspektif keibuan yang lekat dengan ketelitian, keuletan, empati, dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak. Karakter kepemimpinan yang demikian menjadi modal penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan tidak hanya dihitung dalam angka dan laporan administratif, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh anak-anak Indonesia secara nyata.
Sebagai aktivis perempuan, saya meyakini bahwa keberhasilan pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga oleh pembangunan manusia. Jalan tol dapat menghubungkan wilayah, tetapi gizi yang baik akan menghubungkan anak-anak Indonesia dengan masa depan yang lebih cerah.
Karena itu, dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis harus disertai dengan pengawasan yang kuat, evaluasi yang berkelanjutan, serta keberanian untuk memperbaiki setiap kekurangan yang ditemukan di lapangan. Kita tidak boleh terjebak pada polarisasi antara mendukung atau menolak. Yang lebih penting adalah memastikan program ini berjalan tepat sasaran, tepat kualitas, dan tepat manfaat.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan tentang siapa yang mendapat pujian, melainkan tentang berapa banyak anak Indonesia yang tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menggapai masa depan.
Sebab setiap anak yang terbebas dari stunting hari ini adalah fondasi bagi Indonesia yang lebih kuat esok hari. Dan setiap kebijakan yang berpihak pada kualitas generasi muda sesungguhnya adalah investasi paling berharga bagi keberlanjutan bangsa.







Discussion about this post