Dari Mentawai hingga Dunia Digital, Nyai Titik Ratu Bangkit dari Ujian Hidup dan Raih Prestasi Nasional

TANGERANG, BANPOS – Perjalanan hidup Nyai Titik Ratu, Direktur Utama PT Titik Ratu Djuminten, menjadi kisah tentang perjuangan, pengabdian kemanusiaan, dan kebangkitan dari berbagai ujian hidup.

Nyai Titik saat diwawancara, menggambarkan perjalanan hidupnya yang terbentuk dari tiga fase penting.

Baca Juga

No Content Available

“Jika Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, adalah tempat kelahiran raga saya dari rahim suci Almarhumah Simbok Djuminten; dan jika Masjid Raya Pondok Indah (MRPI) Jakarta Selatan adalah tempat saya dilahirkan kembali secara spiritual; maka wilayah pelosok pedalaman 3T Siberut, Mentawai, adalah kawah candradimuka yang menempa mental dan fisik saya bertahun-tahun di tengah lumpur perjuangan kemanusiaan,” ungkapnya.

Perempuan bernama asli Titik Mariati itu mendirikan PT Titik Ratu Djuminten sebagai simbol penghormatan terhadap perjalanan hidupnya. Nama “Titik” diambil dari nama pribadinya, sementara “Djuminten” merupakan penghormatan kepada sang ibu tercinta.

Selain aktif dalam kegiatan sosial, Nyai Titik merupakan Angkatan Pertama Komunitas Peduli Jenazah (KPJ) Masjid Raya Pondok Indah. Sejak 2016, ia juga aktif mempraktikkan terapi bekam yang dipelajarinya melalui Persatuan Bekam Indonesia (PBI).

Misi Kemanusiaan di Mentawai

Tahun 2021 menjadi salah satu momen paling berat dalam perjalanan pengabdiannya di Mentawai bersama Yayasan Aksi Peduli Bangsa (APB).

Saat memimpin distribusi 250 paket sembako ke wilayah Buttui, timnya harus menghadapi perjalanan sungai yang biasanya ditempuh delapan jam namun berubah menjadi lebih dari 20 jam akibat kondisi air surut.

Di tengah kelelahan dan ketakutan kru terhadap mitos hantu hutan Mentawai, Nyai Titik mengambil tindakan yang kemudian selalu dikenangnya.

“Di tengah kegelapan total tanpa setitik cahaya di tengah hutan lebat Mentawai, saya turun dari sampan dan berdiri tegap di tengah dinginnya air sungai. Saya tantang ketakutan itu, saya berteriak lantang menantang hantu: ‘Hai hantu, saya tahu kamu ada di sini! Keluar kamu hantu, lawan saya di sini, hadapi saya!'” kenangnya.

Berkat kerja keras seluruh tim, bantuan akhirnya berhasil tiba dan disalurkan tepat waktu.

Bangkit dari Masa Sulit

Sekembalinya dari Mentawai, kondisi kesehatannya menurun drastis. Ia mengalami gangguan kesehatan yang membuatnya harus menjalani pengobatan dalam waktu lama, termasuk pencabutan seluruh kuku tangan dan kaki secara bertahap.

Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.

“Saya menolak hanya bisa meratapi nasib. Dengan jari-jari yang dibalut perban di kanan kiri, saya menguatkan mental untuk bangkit mempelajari keahlian baru di dunia makeup,” ujarnya.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Nyai Titik berhasil meraih gelar Talented MUA pada ajang Graduation MUA Awards 5 Oppa Adams tahun 2024 dan penghargaan The Best in Traditional Wedding Makeup Category for Serang Region pada AAMA Awards 2025.

Saat ini ia juga telah mengantongi sertifikasi kompetensi dari BNSP sebagai penata rias panggung.

Aktif di Dunia Digital dan Pengabdian Sosial

Selain mengembangkan usaha dan akademi kecantikan, Nyai Titik juga aktif membangun kontribusi digital melalui Google Maps serta telah mendaftarkan merek Titik Ratu ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (HKI).

Melalui akademinya, ia kini membuka program rias pengantin gratis untuk pernikahan KUA pada hari kerja sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Tangerang dan Provinsi Banten.

Di akhir wawancara, Nyai Titik membagikan pesan yang menjadi pegangan hidupnya.

“Siapa yang bisa menolong diri kita saat terpuruk jika bukan diri kita sendiri? Semangat untuk semua orang yang berada di posisi saya terdahulu. Jika saya yang usianya sudah tidak muda saja bisa bangkit merintis usaha, apalagi anda yang masih muda.”

Ia juga mengingat pesan yang selalu dipegang teguh selama menjalani berbagai ujian hidup.

“Setiap masa ada masalahnya, dan setiap masalah harus ada solusinya. Hidup adalah ujian, istirahat nanti di surga. Karena sukses butuh proses, bukan hanya protes. Proses itu pahit, namun buahnya manis, bahkan lebih manis daripada madu. Man Jadda Wajada,” tandasnya. (*)

Berita Terkait

No Content Available

Discussion about this post