Oleh Farid Supriadi
PPIH Arab Saudi 2026 asal Banten
TAHUN 2026 menjadi sejarah baru bagi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia. Pelaksanaan ibadah haji yang sebelumnya dikelola oleh Kementerian Agama kini ditangani langsung oleh Kemenhaj. Perubahan ini berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah serta Pembentukan Badan Penyelenggara Haji yang kemudian berubah menjadi Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Kemenhaj melakukan transformasi besar dalam penyelenggaraan haji dan umrah. Ada 20 langkah strategis yang dilakukan, mulai dari penyatuan pusat kesehatan haji dalam satu kelembagaan, pemerataan kuota haji antarprovinsi, hingga pengurangan masa antrean haji yang sebelumnya mencapai 49 tahun menjadi rata-rata 26 tahun. Bahkan, ke depan ditargetkan hanya 5–10 tahun.
Transformasi lainnya meliputi penambahan kuota jamaah reguler, pengurangan kuota KBIHU dan PHD, penetapan rasio petugas PIHK menjadi 3 banding 45, hingga kontrak tahun jamak untuk efisiensi biaya dan persiapan layanan lebih awal. Pemerintah juga membentuk unit pengawasan layanan haji, membangun ekosistem ekonomi haji, menurunkan biaya haji sebesar Rp6 juta dibanding periode sebelumnya, serta melakukan digitalisasi layanan melalui kontrol katering dan pelacakan petugas haji.
Selain itu, pemerintah menambah layanan fast track untuk embarkasi Makassar sehingga total menjadi enam embarkasi, menginisiasi embarkasi berbasis hotel di Yogyakarta, serta menambah embarkasi baru di Yogyakarta dan Banten. Petugas haji juga menjalani diklat selama satu bulan dengan pola semi-militer yang mencakup pembekalan fisik, mental, disiplin, bahasa Arab, dan fikih dasar haji.
Seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan tata kelola haji dan umrah yang aman, nyaman, transparan, serta berkelanjutan.
Haji 2026
Tagline resmi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 adalah “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”. Dari sekitar 1.600 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, lebih dari 30 persen di antaranya merupakan perempuan. Kebijakan ini menjadi bagian dari komitmen Kemenhaj dalam memberikan pelayanan terbaik, khususnya bagi jamaah lansia perempuan.
Dari total 221.000 jamaah haji Indonesia tahun ini, sekitar 123.000 di antaranya merupakan perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) juga memberikan apresiasi kepada Kemenhaj karena baru kali ini jumlah petugas perempuan mencapai lebih dari 30 persen dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia.
Miqat Bir Ali
Masjid Zulhulaifah atau yang lebih dikenal dengan Bir Ali merupakan tempat miqat makani utama bagi jamaah haji dan umrah yang berangkat dari Madinah menuju Makkah. Lokasinya berada sekitar 9–11 kilometer dari Masjid Nabawi dan menjadi tempat yang ditetapkan Rasulullah SAW untuk memulai ihram.
Di lokasi tersebut, jamaah biasanya melaksanakan salat sunnah ihram sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Jamaah haji Indonesia, khususnya gelombang pertama yang singgah di Madinah, dipastikan mengambil miqat di Bir Ali. Selain Indonesia, jamaah dari Malaysia, Turki, Pakistan, Irak, Mesir, dan berbagai negara lain juga mengambil miqat di lokasi tersebut.
Pada musim haji 2026, penulis mendapat kesempatan menjadi petugas haji dan ditempatkan di sektor khusus Bir Ali serta Terminal Hijrah bersama 35 petugas lainnya. Seminggu sebelum kedatangan jamaah, seluruh petugas telah melakukan orientasi dan mitigasi lapangan untuk menyusun skenario pelayanan, terutama bagi jamaah lansia dan disabilitas.
Orientasi dilakukan untuk mengenali situasi lapangan sekaligus mencegah berbagai potensi kendala selama proses pelayanan jamaah. Seluruh upaya itu dilakukan demi menghadirkan pelayanan yang aman, nyaman, cepat, humanis, dan terintegrasi bagi jamaah haji Indonesia selama proses miqat di Bir Ali.
Pergeseran jamaah haji Indonesia dari Madinah menuju Makkah berlangsung pada 30 April hingga 14 Mei 2026. Setiap harinya terdapat sekitar 150–180 bus yang membawa 5.000 hingga 8.000 jamaah. Pada puncaknya, jumlah jamaah yang mengambil miqat di Bir Ali bahkan menembus lebih dari 9.000 orang dalam sehari. Total jamaah haji Indonesia yang mengambil miqat di lokasi tersebut mencapai lebih dari 150.000 orang.
Sebagai petugas yang menangani layanan lansia dan disabilitas, tugas utama adalah memastikan keselamatan dan kenyamanan jamaah sejak turun dari bus, memasuki masjid, hingga kembali ke kendaraan. Untuk mendukung mobilitas jamaah, petugas menyediakan kursi roda dan golf car agar jamaah tetap nyaman selama proses miqat berlangsung.
Sebelumnya, sektor khusus Bir Ali juga telah mengimbau jamaah, terutama lansia dan disabilitas, agar tidak memaksakan turun dari bus saat cuaca siang hari mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga kondisi kesehatan jamaah sebelum memasuki puncak ibadah haji.
Namun demikian, petugas memahami antusiasme jamaah yang telah menunggu keberangkatan haji selama belasan hingga puluhan tahun. Semangat itu membuat banyak jamaah tetap ingin menjalani seluruh rangkaian ibadah secara maksimal.
Salah satu titik tersibuk di Masjid Zulhulaifah Bir Ali adalah area pintu masuk dan pintu keluar masjid. Ketika ratusan jamaah Indonesia datang bersamaan dengan jamaah dari negara lain, petugas harus aktif mengarahkan arus jamaah agar tidak salah menuju area parkir bus sesuai embarkasi masing-masing.
Keaktifan dan kesiapsiagaan petugas Indonesia membuat banyak jamaah dari negara lain justru meminta bantuan informasi kepada petugas Indonesia. Dengan memanfaatkan kartu Nusuk jamaah, petugas dapat dengan mudah mengarahkan jamaah menuju lokasi yang tepat.
Kesigapan petugas Indonesia dalam memberikan pelayanan mendapat perhatian dari otoritas Arab Saudi. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya negara yang memperoleh fasilitas kantor khusus dari otoritas Saudi di kawasan Bir Ali.
Menjelang keberangkatan PPIH 2026, Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, berpesan bahwa para petugas haji bukan hanya melayani jamaah, tetapi juga menjadi wakil dan duta bangsa Indonesia di Arab Saudi. Pelayanan yang diberikan petugas Indonesia di Bir Ali pun mendapat apresiasi tinggi dari otoritas Saudi Arabia dan disebut sebagai role model pelayanan haji yang prima bagi negara lain.






Discussion about this post