BANPOS – Perundingan damai antara Amerika Serikat dengan Iran yang ditengahi oleh Pakistan di Islamabad tak berhasil mencapai kesepakatan untuk berdamai.
Perwakilan dari Amerika yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance dan perwakilan Iran yang berisikan petinggi-petinggi negara seperti Menteri Luar Negeri Abbas Araghci, pulang dengan tangan kosong.
Berdasarkan unggahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam akun Truh Social miliknya, disebut bahwa sebetulnya hampir semua kesepakatan tercapai dalam perundingan itu.
Namun, terdapat satu tuntutan Iran yang akhirnya membuat perundingan berakhir dengan kegagalan, yakni keinginan Iran untuk melanjutkan program nuklir mereka.
“Jadi, begitulah, pertemuan berjalan dengan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu-satunya poin yang benar-benar penting, yaitu NUKLIR, tidak tercapai,” tulis Trump yang telah BANPOS terjemahkan.

Berdasarkan berbagai pemberitaan yang beredar di luar negeri, terdapat perbedaan persepsi antara Iran dengan Amerika dalam hal program nuklir.
Amerika menganggap, program nuklir Iran mencakup pembuatan senjata nuklir. Hal itu yang membuat mereka menuntut komitmen jelas dari Iran, bahwa Iran tidak akan membangun senjata nuklir.
Namun bagi Iran, dilansir dari Aljazeera, program nuklir yang dimaksud adalah pengembangan nuklir guna kebutuhan masyarakat sipil, bukan militer.
Yang menjadi pegangan Iran ialah persetujuan antara Amerika Serikat dengan Iran pada tahun 2015, yang saat itu ditandatangani oleh Presiden Barack Obama, dengan maksimal pengayaan uranium sebesar 3,67 persen, sebagai ganti atas pencabutan sanksi terhadap Iran.
Meski demikian, Iran sempat meningkatkan pengayaan uranium mereka hingga 60 persen, usai Trump yang menjadi penerus Obama, kembali menerapkan sanksi terhadap Iran.
Merespons tidak tercapainya kesepakatan terkait program nuklir, Trump dalam media sosial yang sama juga menuliskan bahwa dirinya memerintahkan blokade terhadap Selat Hormuz.
“Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses BLOKADE terhadap setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulisnya lagi.
Menurutnya, hal ini sebagai respons balasan atas apa yang dia sebut sebagai ‘pemalakan global’ oleh Iran, dimana Iran memberikan izin keluar dan masuk bagi setiap kapal yang akan lewat, namun dengan menyelipkan indikasi ancaman ‘mungkin ada ranjau di sana’.
Namun, Trump juga mengancam akan mencegat kapal yang lolos dari Hormuz, dengan cara membayar biaya kepada Iran. Menurutnya, hal itu ilegal dan tidak layak mendapat jalur aman ke laut lepas.
“Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kami untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar tol kepada Iran. Tidak ada pihak yang membayar tol ilegal yang akan mendapat jalur aman di laut lepas,” tulisnya. (*)



Discussion about this post