TANGERANG, BANPOS – Aktivitas produksi PT Sukses Logam Indonesia (SLI) yang berlokasi di kawasan industri Oleg, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, hingga kini masih terhenti sejak dihentikan sementara oleh Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid pada 17 Oktober 2025. Akibatnya, ratusan pekerja pabrik peleburan logam tersebut tidak dapat bekerja dan kehilangan mata pencaharian.
Salah satu pekerja PT SLI, Ade Majid, mengatakan bahwa sejak pabrik berhenti beroperasi sekitar tiga bulan lalu, ia dan rekan-rekannya terpaksa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
“Sejak pabrik ditutup, saya kerja serabutan. Sekarang jaga portal di kawasan industri untuk cari makan,” kata Ade kepada Banpos, Sabtu (31/1).
Ade mengaku tidak memahami alasan penghentian sementara operasional pabrik yang disebut-sebut karena pencemaran lingkungan. Menurutnya, selama bekerja dan tinggal di sekitar pabrik, ia tidak merasakan adanya dampak pencemaran yang membahayakan kesehatan.
Ia menjelaskan, penghentian aktivitas produksi dilakukan secara mendadak saat para pekerja sedang beroperasi di bagian produksi. Manajemen kemudian mengumpulkan seluruh karyawan dan menunjukkan surat penghentian sementara kegiatan produksi dari Bupati Tangerang bernomor 500.16.6.6/10401/X/DLHK/2025 tertanggal 17 Oktober 2025.
“Kami diminta berhenti bekerja dan mesin dimatikan. Manajemen bilang pabrik ditutup sementara oleh bupati,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Reza Pramudia, pengawas produksi PT SLI. Ia menyayangkan penghentian aktivitas pabrik yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa kejelasan kapan akan dibuka kembali.
“Namanya sementara, tapi ini sudah tiga bulan lebih dan belum ada tanda-tanda dibuka lagi. Kami ingin bekerja lagi,” kata Reza.
Reza menambahkan, sebagian besar pekerja PT SLI merupakan warga sekitar pabrik yang memiliki keterbatasan untuk mencari pekerjaan di tempat lain.
Pernyataan para pekerja tersebut dibenarkan oleh Divisi HRD PT SLI, Doni. Ia menyebutkan sekitar 75 persen tenaga kerja PT SLI berasal dari warga sekitar pabrik, khususnya dari Kampung Cengkok, Desa Sentul.
“Mayoritas pekerja adalah warga sekitar. Yang dari luar hanya tenaga ahli,” ujarnya.
Sementara itu, dukungan agar PT SLI kembali beroperasi juga disampaikan oleh berbagai elemen masyarakat Desa Sentul yang tergabung dalam Suara Masyarakat Desa Sentul (SMDS).
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sentul, Apendi, mengatakan warga telah menyampaikan surat dukungan pencabutan penghentian sementara operasional PT SLI kepada Bupati Tangerang sejak November 2025.
“Surat dukungan sudah kami sampaikan, ditandatangani warga dari 14 RT. Kami juga meminta audiensi dengan bupati, tapi sampai sekarang belum ada respons,” kata Apendi.
Menurutnya, keberadaan PT SLI selama ini memberikan dampak positif bagi warga, terutama dalam penyerapan tenaga kerja dan pengurangan angka pengangguran.
Selain kepada bupati, aspirasi warga juga telah disampaikan kepada Ketua DPRD Kabupaten Tangerang. Apendi menyebut DPRD telah merespons dengan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) pada Senin (26/1/2025).
“Kami berharap ada solusi agar pabrik bisa kembali beroperasi dan warga bisa bekerja lagi,” ucapnya. (*)







Discussion about this post